JON_8725

dok.mpr ri

Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri pembukaan Muktamar VI dan Milad ke 25 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Auditorium Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) Sabtu, 12 Desember 2015.Muktamar dan Milad yang diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia itu juga dihadiri ketua lembaga negara lainnya serta menteri kabinet kerja dan Gubernur NTB M. Zainul Majdi, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua dan Presidium ICMI Sugiharto, Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie.

 

Dalam sambutannya Wapres Jusuf Kalla mengatakan tantangan yang dihadapi ICMI saat ini berbeda dengan tantangan pada awal pendirian ICMI. “Pada masa lalu pendirian ICMI diawali semangat mahasiswa Universitas Brawijaya dengan mendatangi BJ Habibie untuk mempersatukan cendekiawan muslim. Saya hadir pada awal pendirian ICMI itu,” katanya.

Menurut Wapres, situasi dan kondisi sekarang sudah berbeda dengan pada awal ICMI berdiri. ICMI harus merespons perubahan itu. “Membuat Indonesia bermartabat, yaitu berdaulat secara ekonomi dan politik serta berkepribadian secara budaya,” ujar Wapres.

Kalla mencontohkan gini ratio atau ketimpangan Indonesia. “Indonesia adalah negara yang paling timpang. Ini menjadi tangungjawab saya sebagai pemimpin,” katanya.

Kalla menyebutkan, ketimpangan itu terlihat dari data satu persen keluarga menguasai 50,3 persen kekayaan bangsa. Sebanyak 10 persen keluarga menguasai 70 persen kekayaan. “Ketimpangan Ini harus diperbaiki,” tukasnya.

Dari data itu juga, lanjut Kalla, dilihat dari sisi agama, dari 100 orang kaya di Indonesia, tidak lebih dari  10 orang yang beragama Islam. “Kita tidak berbicara soal agama, tapi keadilan. Bukan menurunkan mereka yang kaya, tapi mengangkat yang miskin,” jelasnya.

“Masalahnya terletak pada semangat. Mereka berusaha lebih keras, lebih semangat. Karena itu gerakan ekonomi yang harus lebih baik,” lanjutnya.

Kalla mengapresiasi langkah ICMI dalam pembangunan ekonomi terutama kelas menengah Islam untuk mengangkat golongan bawah. seperti membentuk ikatan saudagar muslim.

Sementara itu Ketua Presidium ICMI Sugiharto, mengatakan peringatan Milad ini mengingatkan pada ketika ICMI berawal dari kampus Universitas Brawijaya 25 tahun yang lalu dan sekarang peringatan Milad ke 25 di Universitas Mataram. “Dari kampus kembali ke kampus,” katanya.

Sugiharto mengharapkan ICMI memberikan kontribusi maksimal berkait program Nawacita. “ICMI secara konsisten meningkatkan kualitas iman, pikir, kerja, karya dan kualitas hidup. Dampak kehadiran ICMI memberi warna dalam politik, ekonomi, sosial budaya. Karya ICMI, antara lain bank syariah (BMI), asuransi Tafakul, Pinbuk, pendirian Ikatan sudagar muslim Indonesia,” paparnya.

ICMi, lanjut mantan menteri BUMN itu, fokus juga pada kelas menengah yang terus meningkat. “ICMI perlu mengakomodir kelas menengah khususnya di bidang ekonomi agar Indonesia tidak menjadi pasar produk asing dalam MEA,” katanya.

Muktamar VI dan Milad ke 25 ICMI diikuti 994 peserta dari pengurus pusat, pengurus wilayah 27 provisnsi, dan 3 dari luar negeri (Korwil Timor Leste, Timur Tengah, dan Australia).

 sumber: mpr.go.id
Iklan