921220_10152405953799979_8866606065880232511_o

Menurut Montesquieu, cabang kekuasaan ada 3: Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Tapi itu teori kuno. Pada abad ke-20, cabang kekuasaan itu menjadi 4: Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, dan Media. Tapi sekarang teori itu pun sudah kuno. Kini sudah dalam arti luas. Masyarakat Madani (Civil Society) tampil bersama Negara (State), Dunia Usaha (Market), dan Media. Demikian ungkap Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat Periode 2010 -2015, Jimly Asshiddiqie dalam Pidato Utama Muktamar VI dan Milad ke-25 ICMI, Lombok, Nusa Tenggara Barat (12/12/15).

Sistem Etika Pertama ditulis Muslim

Maka, seorang presiden senantiasa membutuhkan sumbangsih dan memperhitungkan kerja kelompok profesional, masyarakat madani, organisasi masyarakat Islam khususnya, selama kita berkualitas.
“Seorang presiden memperhitungkan kerja kelompok profesional untuk negara berkembang. Jadi kaum intelektual pasti diperhitungkan. Yang penting kita sebagai intelektual bermutu. Bukan hanya mutu pemikiran, tapi punya track record dalam bekerja. Karena Bangsa ini membutuhkan orang yang terbukti bisa bekerja. Kita sebagai ICMI kerja saja. Be professional di bidang masing-masing, dan Innallaha yuhibbu idza ‘amila ahadukum an yuthqinahu. Allah ta’ala mencintai seseorang, pabila dia bekerja, ia kerjakan dengan sebaik-baiknya. That is professional. Itu ciri ICMI,” jelas Jimly.

Salau satu bentuk keprofesionalitas adalah mendukung penegakkan hukum yang beriringan dengan etika. Hari ini, lanjut Jimly, hukum sedang tumpul dan etika tidak bekerja.

“Hukum kita sekarang, yang kita harapkan mengendalikan perilaku publik, sedang tumpul. Etika pun tidak bekerja. Maka hukum dan etika sama-sama tidak bekerja. Padahal tegaknya hukum memerlukan berfungsinya etika. Ketua Mahkamah Agung Amerika, Earl Warren berkata: in civilized life, law floats in a sea of ethics. Hukum itu mengapung di samudera etika. Maksudnya, hukum tidak mungkin diharapkan tegak menghadirkan keadilan, kalau etika dalam masyarakat itu tidak berfungsi. Hukum tidak akan mungkin bekerja tegak kalau ahlaq bangsa ini tidak berjalan,” imbuh Jimly yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Jadi, lanjut Jimly, tegaknya syariah dan akhlaq, saling bersinergi satu sama lain. Maka Penting sekali bagi kita sebagai Negeri Muslim terbesar memperbaiki akhlaq Bangsa. Bagaimana akhlaq kita perbaiki bukan sekadar yang dikhutbahkan, juga dipraktekkan dan diterapkan dalam dunia kerja, dunia profesional. Bahkan, karya tertulis pertama di dunia yang khusus membahas soal etika lahir dari seorang tokoh Muslim di abad IX: Al Ruhawi.

“Kode etik, dalam perjalanan sejarah, pertamakali ditulis Al Ruhawi. Kode etik profesi pertama yang ditulis sejarah umat manusia, ditulis di abad ke-9, yaitu ‘Adab al-Tabib’: Kode Etik Kedokteran. Itulah cikalbakal berkembangnya sistem etika profesional jaman sekarang,” pungkasnya.
Hadir juga menjadi pembicara, Ketua MPR RI/ Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat Periode 2010-2015, Zulkifli Hasan. Jimly Asshidiqie terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) periode 2015-2020. Pemilihan ketua umum dilakukan secara musyawarah mufakat di antara tujuh formatur yang terpilih.Penetapannya dilakukan dalam sidang pleno yang berlangsung di Mataram pada Ahad, 13 Desember 2015.
Iklan