kurtu

Untuk menggenjot  pertumbuhan ekonomi,  Negeri ini butuh ketersediaan listrik yang cukup. Meski ada batubara dan gas, tapi energi baru terbarukan tetap kita dorong. Di antaranya energi nuklir. Demikian Anggota DPR RI Komis VII, Kurtubi mengatakan. Ia juga tidak sepakat nuklir menjadi alternati terakhir seperti termaktub dalam dokumen kebijakan energi.

Defisit Listrik

“Saya tidak sepakat, dalam dokumen-dokumen kebijakan energi, di mana ditaruh nuklir merupakan alternatif terakhir. Kalau alternatif terakhir, sampai kiamat pun tidak akan menjadi prioritas. Harus dihapus kalimat yang mengatakan ‘alternatif terakhir’ itu,” tandasnya dalam Dialog Kebangsaan: Kebijakan Strategis Pembangunan Pembangkit  Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia, Gedung Nusantara V MPR RI (27/11/14).

Kurtubi melanjutkan, hampir daerah di seluruh Indonesia kekurangan listrik. Sedang,  kapasitas pembangkit kita sangat rendah. Tidak sebanding dengan kebutuhan. Usaha kecil skala rumahan pun bisa terganggu

“Di Dapil saya,  di Nusa Tenggara Barat, tidak ada hari tanpa pemadaman listrik. Bahkan satu hari bisa 3 kali pemadaman. Kasihan, usaha kecil, usaha rumah tangga hancur karena listrik mati melulu. Anak-anak belajar tidak bisa karena listrik mati 3 kali sehari. Ini terjadi di Negara yang begitu kaya batubara dan gas. Kita mengekspor batu bara dalam jumlah yang sangat besar,” sebutnya.

Maka, sudah saatnya nuklir bukan sekadar alternatif. Solusinya, tatakelola energi diubah. Tidak bisa hanya mengandalkan batubara dan gas.

“Jawabanya  tata kelola energi diubah untuk mempercepat agar pembangkit listrik bisa lebih besar untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Tidak bisa hanya dorong batubara. Batubara dan gas, tetap kita dorong untuk listrik semaksimal mungkin. Itu pun masih kurang. Sekalipun batubara sudah 50 ribu MW dalam sekian tahun, pertambahan penduduk berapa? Sekarang saja elektrifkiasi rasionya masih di bawah 75 persen untuk daerah-daerah tertentu, “ imbuhnya.

kurtu 3

Bolak Balik RS Tidak Takut

Kurtubi mengusulkan perlu ada terobosan, salahsatunya dengan memanfaatkan tenaga nuklir. Kita bisa adopsi sistemnya dari Negara-negara yang sukses menjalankannya.

“Jadi harus ada terobosan, menggunakan tenaga nuklir. Tentunya dengan perangkat, sistem, keamanan yang lebih terjamin. Kita copy-paste saja sistem-sistem di Prancis, Amerika, dan. Rusia yang begitu bagus. Mengapa Prancis 90% listriknya bisa, kita kok takut? Padahal bolak-balik ke rumah sakit itu radiasi nuklir begitu banyak. Kalau bicara resiko, warga Negara meninggal di jalan raya, mungkin satu hari ratusan orang yang meninggal, jelasnya.

Hadir juga pembicara sebagai pembicara, Presidium ICMI dan Komisaris Utama Pertamina, Sugiharto, Kepala BAPETEN, Jazi Eko Istiyanto, deputi Kepala Bidang Teknologi Enerhi Nuklir BATAN, Taswanda Taryo dan Perwakilan Duta Besar Rusia, Sergei Kukushkin. Diskusi kerjasama MPR RI , ICMI dan BATAN ini dibuka secara rssmi oleh Ketua Presidum ICMI, Marwah Daud Ibrahim. Sambutan tuan rumah oleh Kepala Pusat Pengkajian Sekjen MPR RI, Ma,ruf Cahyono.

 

Iklan