10168129_10152209474479979_8447069676654277613_n

Simposium Internasional tentang Peradaban

[MEDIA ICMI] Ketua Presidium ICMI, Priyo Budi Santoso, dalam sambutan pembukaan Simposium Internasional tentang Peradaban, mengajak generasi muda muslim untuk selalu menanamkan satu hal penting dalam tiap aktivitasnya. “Kita harus selalu berpikir; kontribusi apa yang dapat diberikan untuk menciptakanmasyarakat yang lebih beradab,” imbuhnya dalam simposium bertajuk: “The Attainment ofJustice, Prosperity, And Peace in Pluralism for Revitalization of Civilization:The Risale-I Nur Communication Perspective”, Syahidah Inn, UIN SyarifHidayatullah, Jakarta  (17/4/14).

 

Titik Awal

 

Priyo melanjutkan, simposium internasional ini diharapkan dapat mengkaji bagaimana muslim bekerjasama dengan umat agama lain untuk mendorong kerjasama sosial yang harmonis. “Ide-ide besaryang dimotori Badiuzzaman Said Nursi misalnya, hari ini kita gunakan sebagai salahsatu dasar untuk menilai berbagai persoalan yang dihadapi muslim dan pengikut agama lain di Indonesia,” jelasnya.

Untuk itu, simposium ini juga diharapkan dapat mempromosikan atau menguatkan kerukunan antar umat beragama khusunya di negeri kita hari ini. “Semoga simposium ini menjadi titik awal mencapai keadilan kesejahteraan dan perdamaian yang berkelanjutan untuk revitalisasi peradaban,” harapnya.

Wakil Ketua DPR RI ini juga menyampaikan, kekayaan pemikiran Islam pernah menjadi nahkoda bagi pengembangan peradaban di tingkat dunia. “Sebut saja peran besar dan bersejarah dari jaman khulafaurasyidin, segera setelah wafat junjungan kita Nabi Muhammad Saw, hingga jaman kekhalifahanyang tidak kalah hebat dari imperium Romawi, yang mampu menguasai belahan dunia, dari tanah Andalusia hingga Maghribi, dari benua biru Eropa hingga daratan Asia,” sebutnya.

10153706_10152209474499979_4515598406681455711_n

Jangan Sering Ingat Masa Lalu

Sementara Anggota Dewan Kehormatan ICMI, M. Jusuf Kalla di kesempatan hari kedua (18/4/14) mengingatkan, agar umat muslim tidak sering mengingat-ingat masa lalu, terutama saat membicarakan peradaban “Kalau bicaratamaddun, kita selalu bangga dengan masa lalu dan kembali seribu tahun lalu. Kita berbunga-bunga mengatakan penemuan ini- itu oleh ilmuwan muslim dan selesai. Itu memang penting, tapi apa yang kita hadapi dengan segala bunga kebanggaan ini untuk masa depan?,” tandasnya di hadapan para peserta mayoritas mahasiswa itu.

Maka, lanjut JK, sapaan akrabnya, perguruan tinggi harus berpikir dan melihat masa depan. “Apa bedanya museum dan universitas? Museum melihat masa lalu. sedang perguruan tinggi melihat masa depan. Mari kita mengoreksi diri sendiri kenapa umat ini dengan segala kebanggaannya, tapi yang banyak kita ketahui hanya pertumpahan darah,” ajaknya.

 

JK juga mengajak, muslim harus mendorong bagaimana menciptakan kesejahteraan umat. Wakil Presiden RI ke10 ini menekankan pentingnya entrepreneurship dalam menyongsong kemajuan peradaban. kita dapat mencontoh kemajuan di Turki. “Saya bangga bagaimana kemajuan saudara kita di Turki dari segi ekonomi dan umatnya. Kalau di Indonesia, bicara yang kaya itu 90% non muslim. Kalau di Turki,  yang kaya dan miskin adalah orang Turki yang Islam. Jadi ada keseimbangan, sedang di kita tidak,” pungkasnya.

Simposium dua hari yang mengetengahkan pembicara mancanegara dari Turki, Malaysia, India dan Maroko ini turut dihadiri Duta Besar Turki, Zekeriya Akcam, Direktur Istanbul Foundation for Culture and Science, Faris Kaya, Presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim dan Nanat Fatah Natsir, MPP ICMI dan Ketua Komite Simposium, Andi Faisal Bakti, serta segenap pengurus Pusat ICMI, dosen dan mahasiswa, pemerhati pendidikan, serta masyarakat umum.

Iklan