[MEDIA ICMI] Peran guru sangat penting dalam menentukan nasib bangsa ke depan. Karena apa yang terjadi sekarang ini adalah hasil proses pendidikan masa lalu. Begitu tandas Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat, Marzuki Ali saat memberikan sambutan dalam Diskusi Ulul Albab ICMI: “Model Pendidikan Islam Berbasis Wahyu Memandu Ilmu“ di kediaman dinasnya, Senin, Jakarta (16/4)

 

 

ICMI Integrasikan Kembali

Peran guru, lanjut Marzuki, menjadi sangat penting karena orang tua disibukkan rutinitas. “Kalau guru kita tidak sebagaimana yang diinginkan dalam konsep Islam, hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang. Orangnya shalat dan puasa tapi malingnya jalan terus, seolah lepas antara pendidikan umum dengan ajaran agama,” imbuhnya.

Ketua DPR RI ini lalu memaparkan, konsep pendidikan dalam Islam memadukan kepentingan duniawi dan ukhrowi serta menanamkan pada anak didik untuk ‘menjadi orang yang bermanfaat’. “Dimulai dari guru SD, kalau anak pulang sekolah ditanya orangtua, nak kamu tadi belajar apa di sekolah?Jawabnya satu saja, bagaimana menjadi orang yang bermanfaat. Besok ditanya lagi jawabnya sama. Sehingga terekam di kepalanya menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat dan bangsa. Kalau itu tertanam, insya Allah negara ini akan aman utk jangka panjang,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Presidium ICMI, Nanat Fatah Natsir menguatkan, bahwa memang tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Islam pernah berjaya karena memadukan Ayat Qur‘aniyah dan Kauniyah. Sehingga lahir tokoh-tokoh Muslim terkemuka. “Setelah abad 13  turun sampai sekitar abad 18an di situlah mulai muncul dikotomi pendidikan. Sehingga ilmu Islam hanya akidah ahlak saja. Sementara  teknologi, kedokteran, dsb tidak diajarkan dan jadi perhatian. Mudah-mudahan dengan munculnya ICMI kita integrasikan kembali,”  katanya.

Menurut Rektor UIN Malang, Imam suprayogo, model pendidikan berbasis Al Qur’an dan hadis menghasilkan banyak keunggulan, antara lain budaya membaca, meneliti dan menulis meningkat, karena semangat belajar yang tinggi sekali. “Saya kagum dengan hasil penelitian mereka. Ketika mereka memahami Surat Maryam, misalnya. Mereka penasaran, kenapa Al Qur’an berbicara soal bobot Maryam, bersandar di pohon dan kejatuhan buah rutab? Ini kalamullah, tentu di balik itu ada rahasia yang perlu diteliti,” bebernya.

Ternyata setelah dibawa ke laboratorium, didapati rutab mengandung zat yg tidak ada di jenis buah lainya.  Yaitu zat yang kalau dimasukan ke tubuh ibu yang sedang melahirkan dapat menghentikan pendarahan. Begitu pun kenapa Maryam bersandar, mahasiswa biologi meneliti, ternyata posisi melahirkan yang sempurna adalah dengan bersandar, bukan telentang.

“Mereka lalu mengucapkan subahanllah. Jadi penelitian ini mengantarkan mereka untuk bertasbih. Lewat pengkajian  seperti inilah membuat Al Quran menjadi hidup. Mereka belajar dengan basmallah lalu bersemangat sampai bertasbih. Belajar biologi, fisika, kimia dan sosiaolgi bukan sampai ujian nasional, tapi sampai bertasbih. Tanpa anak-anak Fisika, Biologi dan Kimia,  Al Qur’an tidak bisa dipahami sedalam itu.” Pungkas anggota Dewan Pakar ICMI Pusat ini.

Iklan