JAKARTA – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) meneguhkan komitmennya untuk memberdayakan masyarakat akar rumput. ICMI akan konsisten dengan visi dan misi sebagai organisasi kemasyarakatan nonpolitis meskipun tetap tidak alergi dalam menyikapi perkembangan politik nasional. “Kita bukan platform tapi organisasi masyarakat guna memberdayakan rakyat dan umat, kata Ketua Presidium ICMI Ilham A Habibie dalam acara peresmian pengurus ICMI di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (2/3).

Revitalitasi Masjid dalam Pemberdayaan Umat 

Ilham mengatakan, ICMI akan melakukan program pemberdayaan terutama di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, serta ketercapaian Millennium Development Goals (MDGs) atau target k pembangunan kesejahteraan rakyat yang , ditetapkan PBB. Menurutnya, upaya ini memerlukan penerapan iimii pengetahuan dan teknologi tepat guna yang diimbangi oleh etika dan moral berdasarkan keimanan dan ketakwaan yang kuat.

Program yang dijalankan ICMI adalah program pemberdayaan melalui unit paling kecil, yakni organisasi daerah (orda) dan organisasi satuan (orsat). Selain itu, ICMI juga akan bekerja sama dengan mitra strategis lainnya guna mengembangkan komunitas dan komoditas berbasis unggulan. Karena itu, ICMI akan menjalin nota kerja sama dengan sembilan lembaga terkait guna menyukseskan programnya.

Salah satunya adalah program revitalitasi peran masjid dalam pemberdayaan umat yang akan dilaksanakan bersama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dewan Masjid Indo-nesia (DMI), Badan Wakaf Indonesia, dan jaringan Koperasi Serba Usaha Khairu Ummah. Di bidang program pelatihan kepemimpinan dan pelatihan manajemen sumber daya manusia, ICMI bekerja sama dengan The ESQWayl65.

Menurut Ilham, fokus ICMI terhadap program-program pemberdayaan rakyat bukan berarti ICMI tak acuh terhadap persoalan bangsa, terutama menyangkut kekisruhan politik. Tetapi, keterlibatan tersebut merupakan langkah ICMI dalam rangka memberdayakan rakyat. “Mending fokus dengan berbagai program riil untuk rakyat di bawah,” kata dia

Kemarin malam, ICMI meresmikan kepengurusan 2010-2011 yang terdiri atas 854 orang yang tersebar di Presidium (lima orang), Majelis Pengurus (200 orang), Dewan Pakar (300 orang), Dewan Penasihat, dan Dewan Kehormatan. Presidium ICMI terpilih dalam Muktamar ICMI di Bogor Desember lalu terdiri atas Ilham Habibie sebagai ketua dan empat anggota yakni Nanat Fatah Natsir, Marwah Daud Ibrahim, Priyo Budi Santoso, dan Sugiharto.

Dalam acara tersebut juga dikukuhkan Majelis Pengurus Pusat ICMI periode 2010-2015. Duduk sebagai Ketua Dewan Kehormatan adalah BJ Habibe, Ketua Dewan Penasihat Jimly Asshiddiqie, dan Ketua Dewan Pakar Hatta Ra-jasa. Terpilih sebagai sekjen adalah Muhammad Taufiq dan sebagai bendahara umum Sandiaga Uno.

Priyo Budi Santoso menjelaskan, terdapat tiga karakter utama organisasi ICMI, yaitu sifat keislaman, keindonesiaan, dan kecen-dekiawanan. Hal itu didukung dengan trilogi ICMI yaitu kepemimpinan kolektif dan kolegial, organisasi yang rapi, efesien, dan efektif, serta program nyata yang bisa dirasakan oleh akar rumput.

“Kita akan menjemput dan menjumput isu-isu krusial di masyarakat agar ICMI bisa nendang,” katanya. Namun, Priyo juga mengingatkan bahwa ICMI tetap tidak akan alergi terhadap masalah politik meskipun konsentrasi utamaadalah memberikan manfaat besar dan riil bagi akar rumput.

Berbagai kegaduhan politik nasional saat ini dianggapnya wajar sebagai proses menemukan bentuk demokrasi final dalam masa transisi di negeri ini. Karena itu, terkait berbagai persoalan politik, termasuk reshuffle kabinet, ICMI tidak akan memberikan pandangan selama tidak dimintai pandangan. “Serahkan ke UU yang jadi wewenang Presiden,” kata dia.

Namun demikian, ujar Priyo, diminta ataupun tidak, apabila datang masanya kelak ketika sejarah memanggil, ICMI akan aktif bersuara. Apalagi, dalam dewan pakar ICMI tergabung sejumlah pakar di bidang demokrasi dan politiksehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran dan solusi beragam persoalan politik di Tanah Air. “Kami ingin yang terbaik,” kata Priyo.

Dalam jajaran kepengurusan ICMI memang banyak terdapat politikus dari berbagai partai politik. Mereka rata-rata masuk jajaran ke Dewan Penasihat, seperti Aburizal Bakrie (Golkar), Marzuki Alie (Demokrat), Agung Laksono (Golkar), Suryadharma Ali (PPP), Anas Urbaningrum (Demokrat), dan Luthfi Hasan Ishaaq (PKS).

Selain itu, ada juga Hidayat Nur Wahid (PKS), Suharso Monoarfa (PPP), Achmad Mubarok (Demokrat), Akbar Tanjung (Golkar), Fuad Bawazier (Hanura), Muhaimin Iskandar (PKB), Patrialis Akbar (PAN), Wiranto (Hanura), dan Prabowo Subianto (Gerindra). Adapula Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Selain Hatta Rajasa (PAN), beberapa tokoh lain ada juga yang masuk ke Dewan Pakar seperti Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Jafar Hafsah (Demokrat), Fadel Muhammad (Golkar), Arif Budimanta (PDIP), dan Zulkifli Hasan (PAN). Selain politikus, beberapa pejabat dan tokoh nasional lain juga ikut dalam kepengurusan kali ini. Di jajaran Dewan Penasihat ada Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, pengusaha Rahmat Gobel, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Sira j. (Nashih Nasrullah)

sumber: republika.co.id

Iklan