REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Anggota Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Priyo Budi Santoso menyatakan ICMI Presidium ICMI  yang bertugas memimpin ICMI lima tahun ke depan sepakat menanggalkan baju politik ketika bersama di ICMI. Sebab, ICMI adalah ladang pengabdian bagi para cendekiawan Muslim yang tergerak dan peduli terhadap perbaikan nasib bangsa dan Negara.

Kekuatan Pada Keanekaragaman

”ICMI bukan kendaraan politik tapi kumpulan cendekiawan Muslim terpanggil mengawal  masalah bangsa dan Negara,”kata dia kepada Republika di sela-sela konferensi pers Susunan Kepengurusan ICMI periode 2010-2015, di Kantor ICMI, Jakarta, Kamis (6/1)

Namun demikian, ditegaskan Priyo yang juga Wakil Ketua DPR-Ri ini, ICMI tidak akan alergi politik dan menghilangkan unsur politik di tubuh ICMI. Justru, keberadaan beragam aktivis partai politik di tubuh ICMI menjadi kekuatan tersendiri. Kekuatan ICMI terletak pada keanekaragaman latar belakang orang yang bergabung di ICMI meliputi politikus, akademisi, peneliti dan para praktisi lainnya.

“Insya Allah orang orang terbaik kita wadahi dalam ICMI sehingga tidak perlu lagi ada kekhawatiran mengenai  (ICMI berpolitik praktis, red), ICMI bukan kendaraan politik tetapi organisasi kecendekiaan untuk keislaman, ke Indonesiaan, ingin menebar manfaat bagi bangsa dan Negara,” pungkas dia.

Struktur pengurus yang baru tersebut, yaitu, Ketua Dewan Kehormatan, B J Habibie, Ketua Dewan Penasehat, Jimly Asshiddiqie, Ketua Dewan Pakar, Hatta Radjasa, dan Wakil Ketua Utama Dewan Pakar, Muhammad Nuh. Lalu untuk presidiumnya, diisi oleh, Ilham Habibie, Nanat Fatah Natsir, Marwah Daud Ibrahim, Priyo Budi Santoso, dan Sugiharto. Untuk posisi Sekertaris Jenderal dijabat oleh Muhammad Taufiq dan Bendahara diisi oleh Sandiaga Uno.

sumber: republika.co.id

Iklan