Cepat  atau lambat, para ilmuwan meyakini persediaan sumber energi yang berasal dari fosil seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas akan segera habis. Untuk itu, beberapa pihak saat ini mulai memikirkan energi alternatif selain fosil. Salah satunya energi bioetanol.

Dirintis Sejak 2009

Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar nabati yang sangat berpotensi menjadi primadona untuk menggantikan minyak bumi yang harganya semakin tinggi dan kurang ramah lingkungan. Selain itu, bioetanol juga disebut-sebut sebagi salah satu energi alternatif baru dan terbarukan yang memiliki bahan baku tidak terbatas.

Energi bioetanol dapat dibuat dari berbagai bahan baku yang melimpah di Indonesia, seperti singkong, tebu, aren, jambu mete, dan jagung. Selain itu, bioetanol juga dapat diproduksi dari hasil pertanian yang tidak layak atau tidak bisa dikonsumsi, seperti sampah/limbah pasar dan limbah pabrik gula dan kemudian diproses menjadi bahan bakar (biofuel).

Yang menarik, pabrik bioetanol skala besar pertama di Jawa Barat, bahkan di Indonesia, dibangun di Kampung Nanggewer, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Pabrik bioetanol ini dibuka dan diresmikan langsung Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Selasa (11/1).

Uniknya lagi, pabrik bioetanol yang diprakarsai Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Barat ini memilih singkong sebagai bahan bakunya. Tentu saja, bahan baku singkong ini mudah didapatkan karena sebagian masyarakat di wilayah Garut selatan banyak yang menanam pohon singkong di kebun-kebun.

Pabrik bioetanol ini mulai dirintis sejak Agustus 2009 oleh Ketua ICMI Jabar, Prof Dr Nanat Fatah Natsir yang juga Rektor UIN Bandung. Namun pabrik ini baru beroperasi beberapa bulan lalu setelah memperoleh bantuan dana Rp 500 juta dari Pemprov Jabar untuk membeli mesin dan membangun pabrik.

“Untuk tahap awal pabrik bioetanol ini hanya berproduksi dengan skala 200 liter bioetanol per hari. Namun dalam beberapa bulan ke depan kapasitas produksinya akan ditingkatkan menjadi ribuan liter per harinya,” kata sang penggagas bioetanol berbahan baku singkong, Prof Dr Nanat Fatah Natsir, seusai peresmian pabrik bioetanol di Cikelet, kemarin.

Kelebihan Bioethanol

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki energi alternatif bioetanol ini. Salah satunya, masyarakat yang menggunakan bioetanol akan mendapatkan nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan menggunakan minyak tanah. Menurut Nanat, 1 liter bioetanol bisa dimanfaatkan selama kurang lebih lima belas jam.

Bandingkan dengan minyak tanah yang satu liternya hanya mampu digunakan selama empat jam. Lebih ekonomis, bukan?

Di sisi lain, bioetanol berbahan baku singkong ini juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Saat ini saja, pabrik bioetanol di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, sudah mempekerjakan sembilan puluh orang pekerja.

Meski pabrik Bioethanol ini masih dalam tahap ujicoba dan  hanya mampu memproduksi 200 liter bioethanol cair, saat ini hasil produksi bioetanol berbahan baku singkong ini sudah dimanfaatkan untuk keperluan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Slamet Garut dan kebutuhan rumah tangga.

“Insya Allah kami pun akan membantu pemasarannya. Saat ini saja Rumah Sakit Garut sudah menggunakan energi bioetanol ini. Mereka berani membayar Rp 20 ribu per liternya,” kata dia seraya menyebutkan pabrik tersebut belum mampu memenuhi permintaan rumah sakit yang memerlukan ribuan liter etanol setiap bulannya.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan keberadaan pabrik bioetanol pertama di Jawa Barat ini dapat menjadi solusi energi alternatif di samping energi yang bersumber dari fosil yang lambat laun akan habis.

Menurutnya, energi bioetanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak. Selain hemat secara ekonomi, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri dengan cara yang relatif mudah, apalagi bahan bakunya sangat mudah didapat yaitu singkong.

Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, tanaman-tanaman seperti jagung, tebu atau singkong dapat dikonversi menjadi bahan bakar.

Penggunaan bahan bakar bioetanol sebagai bahan campuran BBM, kata dia, dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa negara yang sudah lebih dulu mengaplikasikannya, seperti Brazil dan Jepang.

“Saya berharap energi bioethanol ini dapat membumi. Saya sepakat program ini harus jadi embrio untuk dikembangkan di daerah lain dan itu diawali dari Cikelet, Kabupaten Garut. Bagaimana pun energi fosil akan habis segera,” kata Heryawan, seusai peresmian pabrik bioetanol di Desa Cijambe, kemarin.

Dengan melimpahnya bahan baku, menurut Heryawan, seharusnya bioetanol dapat menggantikan sebagian pemakaian BBM yang sudah semakin langka. “Saya membayangkan ke depan, alat transportasi dan pabrik industri tidak lagi pakai BBM. Tapi semuanya menggunakan bioetanol ini. Mari kita mulai dari Garut. Ini potensi besar bagi kita dan bisa jadi solusi bagi Indonesia yang mengalami krisis energi,” kata Gubernur.

Senada dengan Heryawan, Direktur Bioenergi ESDM, Mariche Hutapea mengatakan energi terbarukan seperti energi bioetanol ini menjadi prioritas untuk dikembangkan. Apalagi saat ini mayoritas bangsa Indonesia masih menggunakan energi yang bersumber dari fosil.

“Ke depan kami akan kembangkan desa mandiri energi. Jadi nanti semuanya harus memakai energi terbarukan. Minimal mereka dapat memenuhi 60 persen kebutuhan energinya dari pemberdayaan sumber daya setempat seperti bioetanol ini. Ke depan sektor industri dan transportasi juga harus memanfaatkan energi ini,” kata Mariche.

sumber: tribunjabar.co.id

 

Iklan