JAKARTA — Islam mempunyai peluang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sebab, agama menekankan kebebasan berpikir. Hal itu dikatakan Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Ilham A Habibie, dalam seminar bertema “Aktualisasi Nilai-nilai Keimanan dalam Ajaran Islam di Dunia Sains dan Teknologi” di Jakarta, Kamis (30/12)

Harus Aktif dan Produktif

Ilham mengatakan, letak kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terletak pada kebebasan berpikir. “Tetapi, kebebasan berpikir yang mempunyai koridor dan batasan syariat,” ujarnya. Maksud dari kebebasan berpikir, kata dia, adalah alam semesta yang berada di sekitar manusia merupakan modal dan dasar penting untuk memahami ciptaan Allah. Dengan memahami ciptaan tersebut, mestinya manusia akan lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Namun, Ilham mengakui, minat umat Islam mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi masih lemah. Ia berpendapat, usaha mendasar yang bisa ditempuh untuk mengembalikan kejayaan umat Islam di bidang iptek adalah memperbaiki lembaga pendidikan. Nilai-nilai kebebasan berpikir dan seruan Islam untuk menginterpretasi penciptaan Tuhan harus dijadikan frame dalam dunia pendidikan Islam.”Sehingga nilai keislaman bisa memberikan pengaruh kuat terhadap produk pendidikan tersebut.”

Langkah berikut yang harus ditempuh umat Islam, menurut Ilham, yakni aktif, produktif, dan berkontribusi terhadap kesejahteraan dan kemajuan dunia secara luas. Dengan begitu, nilai-nilai universal Islam yang tersaji melalui produk-produk sains dan teknologi dapat disadari dan dinikmati oleh peradaban global.”Inilah solusi menciptakan kembali sejarah iptek di dunia Islam, tidak melulu menekankan pada sejarah masa silam,” ujar Ilham.

Sejarah masa silam, lanjut dia, memang penting sebagai bahan pijakan. Namun, umat Islam tetap harus berorientasi membangkitkan peradaban ke depan. “Jangan terus membayangkan kemajuan peradaban di masa silam, tapi bagaimana membangkitkan kembali prestasi tersebut di masa mendatang,” tegasnya lagi.

Kepedulian Rendah

Seperti halnya Ilham, Peneliti Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Ing H Fahmi Amhar, juga berpendapat, kepedulian dunia Islam terhadap iptek masih sangat rendah. Sebagai contoh, di Indonesia, tunjangan peneliti utama masih berkisar Rp 1,1 juta, bahkan untuk tingkat peneliti senior hanya memperoleh kurang lebih Rp 3 juta. Indikasi lain, kemampuan riset masih terbatas pada analitif aplikatif. Masih jarang riset yang bersifat observatif atau analitif yang inovatif dan memberi dampak besar bagi kemanusiaan.

“Padahal, umat Islam memiliki dasar teologis yang kuat untuk menghidupkan iptek. Sebab dalam Islam, ilmu dan iman ibarat saudara kembar yang tak terpisahkan. “Dijelaskan, ada tiga ketertinggalan teknologi yang mesti diperbaiki oleh umat Islam. Pertama, sumber daya manusia yang belum memadai. Kedua, anggaran riset yang rendah. Hal ini berdampak pada kreativitas menciptakan bahan atau peralatan pengganti yang hampir nihil. “Ketiga, kualitas riset yang masih belum maksimal.”

Karena itu, lanjut Fahmi, negara-negara Muslim mesti memisahkan kebijakan riset di negara mereka antara kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Kebijakan jangka pendek lebih menjadi domain individu ilmuwan Muslim yang memiliki komitmen dengan perkembangan sains dan teknologi di negeri Islam.   Sedangkan pada kebijakan jangka panjang, kata Fahmi, negara harus berupaya agar negara Muslim menjadi pusat kegiatan para ilmuwan, terutama ilmuwan Muslim.

Sumber: republika.co.id

Iklan