Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Barat, mendirikan pabrik bioethanol di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Bahan baku untuk menghasilkan bioethanol tersebut berasal dari singkong.  “Program ini merupakan pilot project,” ujar Ketua ICMI Orwil Jawa Barat, Uton Ruston dalam acara peresmian pabrik yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, di Desa Cijambe, Garut, Selasa (11/1). 

Tahan Hingga 15 Jam

Menurut Uton, tujuan pendirian pabrik energi terbarukan ini untuk mewujudkan program kemandirian energi masyarakat pedesaan. Selain itu, kata dia, hasil produksi bioethanol ini diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya krisis energi di Indonesia.

Pengoperasian pabrik ini telah berlangsung sejak Maret 2009 lalu dengan jumlah pekerja mencapai 20 orang. Kapasitas produksi setiap harinya mencapai 200 liter dengan kebutuhan bahan baku singkong sebanyak 1,5 ton. Sementara biaya produksi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap satu liter bioethanol mencapai Rp 7 ribu.

Manager Pabrik Bioethanol, Muhtarom, menyatakan, bioethanol produksinya itu dapat digunakan untuk membersihkan alat kesehatan dan juga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Satu liter ethanol dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 10 ribu.

Etanol hasil produksinya itu memiliki kadar ethanol sebesar 90-94 persen. Kadar ini hanya cocok untuk kebutuhan sehari-hari, tidak dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Soalnya, kadar ethanol yang diperlukan untuk bahan bakar sebesar 99,5 persen. “Ethanol yang kita hasilkan belum bisa digunakan untuk kendaraan atau bahan bakar,” ujarnya.Muhtarom menambahkan, ethanol ini hanya digunakan masyarakat untuk keperluan memasak. Keunggulan ethanol ini, dibandingkan minyak tanah, di antaranya memiliki daya tahan yang cukup lamam hingga mencapai 15 jam, sedangkan minyak tanah hanya bertahan 3 jam. Selain itu ethanol ini juga tidak mengeluarkan bau tidak sedap.

Untuk menghasilkan ethanol, lanjut Muhtarom, diperlukan waktu selama empat hari. Proses untuk menghasilkan etanol dengan cara singkong yang telah dibersihkan diparut dengan menggunakan mesin untuk diambil sarinya.

Setelah diendapkan selama satu jam, sari singkong tersebut dipanaskan di dalam tangki khusus hingga menjadi bubur dengan waktu selama 6 jam. Setelah dingin, dimasukkan ke dalam tangki fermentasi selama 3 hari. Baru dipanaskan kembali selama 4 jam dengan suhu 100 derajat di dalam tangki destalasi. “Dari teng ini baru keluar ethanol,” ujarnya.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, meminta bioethanol ini bisa menjadi program yang dapat dirasakan masyarakat. Bahkan, dia berharap bioethanol ini bisa menjadi bahan bakar kendaraan.  “Bila bioethanol Ini sukses, krisis energi di Indonesia akan diselesaikan dari Kabupaten Garut,” ujarnya. (Sigit Zulmunir)

sumber:tempointeraktif.com

Iklan