JAKARTA (Suara Karya): Guru memainkan peranan yang sangat penting dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah, dengan memberi contoh yang baik lewat perilaku sehari-hari. Jika tidak, pendidikan karakter hanya akan menjadi pelajaran hafalan seperti yang terjadi saat ini. “Pendidikan karakter akan lebih merasuk ke jiwa anak didik apabila guru memberi contoh lewat perilaku sehari-hari. Jika tidak, nantinya pendidikan karakter hanya menjadi pelajaran hafalan,” kata Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Sulastomo, dalam seminar “Pendidikan Karakter Bangsa” yang digelar ICMI di Jakarta, Selasa (12/10).

Diimplikasikan Pada Semua Mata Pelajaran

Sulastomo menambahkan, pendidikan karakter harus sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ia mencontohkan anak-anak di Amerika yang selalu menyanyikan lagu kebangsaan sebelum belajar. “Menyanyi lagu kebangsaan bisa menambah semangat dan cinta terhadap bangsa,” katanya.

Menurut Sulastomo, berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini sebenarnya bersumber dari lemahnya karakter bangsa. Selain itu, kepedulian sosial juga menipis, sehingga mencerminkan hilangnya sifat kebersamaan dan gotong royong. “Hal ini dapat terlihat dari masyarakat Indonesia yang cenderung individualistis dan materialistis. Landasan penyelenggaraan pendidikan seharusnya tidak boleh terlepas dari landasan untuk apa suatu negara itu didirikan,” ucapnya menegaskan.

Landasan filosofi pendidikan itu, menurut Sulastomo, seharusnya ditulis dalam undang-undang dan kebijakan negara untuk kemudian diimplementasikan secara nyata. Dengan demikian, dapat membentuk perilaku manusia yang sesuai dengan falsafah negara dan bangsa.

Sulastomo berharap pendidikan karakter tidak dibuat dalam satu mata pelajaran khusus seperti di masa lalu melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ataupun Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), tetapi diimplikasikan pada semua mata pelajaran sehingga pendidikan karakter menyentuh semua bidang kehidupan. “Semua mata pelajaran bisa dimasukkan pendidikan Pancasila karena masalah karakter ini menyentuh semua lini kehidupan,” ucap Sulastomo.

Presidium ICMI Muslimin Nasution dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, ICMI mempunyai empat program dasar yaitu pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, mencetak kader bangsa, dan membangun sistem jejaring antarkelompok umat. Terkait penerapan pendidikan karakter, kata dia, ICMI mencoba mencetak tokoh-tokoh pemimpin umat yang rahmatan lil alamin.

Menurut Muslimin, untuk mencetak kader tersebut dilakukan dengan mengembangkan tokoh-tokoh yang tidak hanya mampu membaca ayat kauliyah, tetapi juga kauniyah. “Semua ciptaan Tuhan tidak sia-sia. Ilmu pengetahuan yang ada bersumber dari alam, perpustakaan yang terbesar di dunia ini adalah alam. Sekarang ilmu pengetahuan bergeser ke konsep-konsep menggunakan alam sebagai basisnya,” kata Muslimin.

sumber: suarakarya-online.com

Iklan