JAKARTA – Pendidikan bermutu berbasis karakter, belum banyak diterapkan di Indonesia. Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menyebut baru 193 sekolah yang menerapkan pola tersebut. “Padahal, untuk membangun sekolah seperti itu, tidak membutuhkan persyaratan yang sulit,” kata Nuh pada Seminar Nasional Pra-Muktamar V Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), di Jakarta, Selasa (12/10).

Berbagai kebobrokan di Tanah Air bersumber dari lemahnya karakter

  

Fasilitas mewah, kata Nuh, tak diperlukan untuk membangun sekolah yang menerapkan pendidikan bermutu berbasis karakter. Meski demikian,tetap membutuhkan guru berkualitas dan kepemimpinan dari kepala sekolah. Agar lebih banyak sekolah seperti itu, Nuh mengatakan sejak tahun lalu Kementerian Pendidikan Nasional menyiapkan pelatihan kepala sekolah dan pengawas. Dalam pelatihan tersebut, ada tiga domain dasar yang disiapkan, yaitu kepemimpinan (leadership), kemampuan manajemen, dan kemuliaan pribadi -termasuk di dalamnya kontrak kinerja. “Diharapkan, pola pendidikan berbasis karakter ini bisa diterapkan pada tahun ajaran 2011-2012,” kata Nuh pada seminar bertajuk “Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan Bermutu Berbasis Karakter”, itu.

 

Nuh mengatakan, pendidikan berbasis karakter itu berupaya mengembalikan karakter bangsa apa adanya. “Nilai esensial karakter yang harus diterapkan pada siswa antara lainjujur, cerdas, peduli, dan tangguh,” katanya. Hal yang perlu difokuskan, kata Nuh, adalah akses dan mutu pendidikan. Celakanya, untuk faktor akses pendidikan saja, Indonesia punya pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Sementara itu, Gerakan Guru Berkualitas Ikatan Cendekiawan Muslim Se-indonesia (Gerutas ICMI) menyatakan Indonesia memerlukan pendidikan berbasis karakter. Lemahnya pendidikan karakter, dinilai merupakan sumber dari berbagai keboborakan yang melanda bangsa saat ini. Sampai saat ini, menurut anggota Tim Geruntas ICMI, Fuad Fachruddin, aspek kemampuan yang diperoleh anak didik melalui proses belajar, baru mencakup membaca dan menulis. “Aspek berpikir analitis, pertautan, hingga pembentukkan sikap dan karakter belum bisa dilakukan,” katanya.

Lemahnya pendidikan karakter itu, kata Fuad, dapat dilihat dampaknya saat ini. Antara lain, pada banyaknya orang yang mendapat gelar perguruan tinggi melalui jalan pintas; meningkatnya angka pengangguran terdidik dan terselubung; hingga lunturnya sopan santun dan etika dalam berpolitik. Fuad mengatakan pendekatan dalam penanaman karakter haruslah terpadu dan menyeluruh. Pendekatan itu mencakup tiga dimensi, yaitu berpikir, rasa, dan aksi atau amal. Yang diperlukan saat ini, kata Fuad, adalah komitmen. Kemudian, masing-masing komponen sepakat membuat rencana. Selanjutnya, dipadukan menjadi program gerakan pendidikan karakter di sekolah. “Pelaksanaannya lewat kurikulum, ekstrakurikuler, pengondisian, hingga contoh teladan,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Mohammad Ali mengatakan pendidikan karakter merupakan pendidikan yang diarahkan untuk membentuk peserta didik sebagai manusia yang memiliki ciri-ciri baik. “Menjadi manusia yang berkarakter baik, selain cerdas, merupakan tujuan akhir dari pendidikan karakter,” katanya. Mohammad Ali beranggapan, pendidikan agama dapat dijadikan salah satu sarana untuk membangun karakter peserta didik. “Muatan pendidikan Agama Islam pada unsur akhlak, dapat diisi dengan pendidikan karakter,” katanya. Yang tak kalah pentingnya adalah penilaian dalam pendidikan karakter, sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui pengukuran kemampuan yang terkait dengan aspek kognitif semata. “Penilaian harus dilakukan secara komprehensif, meliputi pengetahuan, perasaan, dan tindakan,” imbuhnya.

sumber: republika.co.id

 

Iklan