Indonesia harus memperkuat industri nasional untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dari situ akan
tertanam kebanggaan yang menumbuhkan nasionalisme sehingga ada kesungguhan menjaga kualitas. Demikian disampaikan Bendahara ICMI, Rachmat Gobel dalam Seminar Nasional Pra Muktamar V ICMI 2010: “Peran Pengusaha dalam Kesinambungan Stabilitas Ekonomi Sosial Bangsa,” di Hotel Dharmawangsa, Jakarta (25/11)

Prioritaskan Domestik

Industri tekstil, elektronika, jamu, makanan dan minuman, mebel serta kerajinan merupakan industri berbasis budaya yang menyerap banyak tenaga kerja, dikerjakan perusahan kecil dan menengah serta berbahan baku relatif ada di dalam negeri dan mempunyai nilai kultur luar biasa.. Hanya masalahnya, kata Rachmat, bunga perbankan kita tinggi dan pengadaan bahan bakunya pun sulit. “Jadi kalau Pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, saya yakin bisa lebih dari 6 persen selama sektor riil diperjuangkan. Juga amankan bahan bakunya dan prioritaskan untuk domestik,” imbuh Direktur PT. Panasonic Gobel Indonesia.

Karena itu, langkah yang perlu ditempuh antara lain, pertama, dengan mengenalkan inovasi teknologi dalam proses produksi yang lebih modern dan lebih baik kepada para penggerak usaha kecil dan menengah sehingga bisa menghasilkan produksi lebih besar dan meningkatkan kualitas. Kedua, inovasi desain. Karena kekuatan dan kemampuan bangsa Indonesia berkarya membuat desain-desain  yang mempunyai nilai tambah itu juga luar biasa. Jadi sebenarnya Indonesia punya daya saing. “Kalau ini dijalankan, meski tidak kelihatan bermilyar-milyar dolar seperti sektor lainnya, tapi ada potensi pertumbuhan ekonomi dengan perluasan lapangan kerja,” pungkasnya

Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Ginandjar Kartasasmita, mengingatkan perlunya lebih memerhatikan potensi daerah. Kinerja ekonomi Indonesia pada triwulan I 2010 yang tumbuh 5,7 persen dibanding triwulan I 2009,  menumbuhkan optimisme bisa melampaui target yang ditetapkan.  Namun, ia mengakui, pertumbuhan ekonomi nasional ini belum merata karena percepatan pertumbuhan hanya terlihat di kota-kota dekat pusat pemerintahan. “Padahal potensi ekonomi terbesar justru ada di daerah yang bisa mencapai 70 persen. Karena itu dengan penduduk 225 juta jiwa dan tersebar di seluruh wilayah, perekonomian Indonesia sangat berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi,” ungkapnya dalam sambutan utama seminar tersebut.

Forum diskusi dua sesi ini juga menampilkan pembicara; CEO PT RMI Group, Rohmad Hadiwijoyo, Anggota MWA IPB, Penyelenggara Agrinex, Rifda Ammarina, Ketua KADIN Jawa Barat, Agung Suryamal Sutisno, CEO PT Ilthabi Barat Utama, Ilham Akbar Habibie dan Pengamat Ekonomi, Aviliani.

 

Iklan