SILAKNAS ICMI 2009
Batam, 11-13 Desember 2009

Sidang Paralel III
“Penggunaan ICT, Riset dan Pengembangan Teknologi Industri Rakyat”

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sejatinya dikembangkan untuk menjadi usaha besar (UB). Agar Produk domestik bruto (PDB) nasional secara keseluruhan meningkat, tidak ada cara lain kita menciptakan lebih banyak UB. Demikian disampaikan Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, Dr. –Ing Ilham Akbar Habibie dalam Sidang Paralel III Silaknas ICMI 2009.

Pembekalan Teknologi Infomasi dan Komunikasi
“Kita harus mampu mendorong dan memberdayakan UKM menjadi UB sehingga dia bisa menciptakan devisa lebih banyak dan kontribusi terhadap PDB lebih besar dan menyerap tenaga kerja. Di situlah kunci kita mengembangkan ekonomi ke depan. UMKM memang perlu kita perhatikan, Tapi diartikan dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi suplier dari UB atau dia sendiri menjadi UB,” iimbuhnya.(12/12/09)

Salahsatunya dengan membekali skill di bidang Information and Communication Technology (ICT)/ Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Menurut Doktor – Ingenieur di Technical University of Munich, Germany dengan predikat Summa Cum Laude ini, penanganannya berbeda untuk tiga skala usaha tersebut. Bagi Usaha Mikro, perlu ditingkatkan pendidikan memperbaiki keterampilan melalui pelatihan. Selain itu dukungan finansial melalui pola microfinance. Dengan ini diharapkan Usaha Mikro dapat beralih menjadi Usaha Kecil

Untuk Usaha Kecil dan Menengah, perlu dikembangkan kapasitas melalui pelatihan manajemen, bantuan dana untuk penelitian terapan melalui research grant melalui institusi riset pemerintah dan swasta serta pengembangan teknologi dan produk yang menjadi bagian kegiatan rutin perusahaan. ”Cara UKM melihat industri dan pasar sebenarnya tidak jauh beda dengan UB. Namun kapasitasnya masih sangat terkendala. Pengusahanya sendiri mungkin sebelumnya pernah menjadi pegawai di pabrik atau perusahan jasa. Jadi mereka sudah mengerti mengenai bisnis dan produknya. Tapi karena kapasitasnya terbatas kadang menemukan kesulitan tumbuh,” sebut C.E.O. PT. Industri Mineral Indonesia.

Menurut BPS (data UMKM 2008); jumlah usaha besar di Indonesia + 4,37 ribu (0,01%), Usaha Menengah 39,66 ribu (0,08%), Usaha Kecil + 520,22 ribu (1,01%), Usaha Mikro + 50,70 juta (98,90%). Data KADIN bulan Oktober 2009 menyebutkan kontribusi UMKM antara lain; mayoritas jumlah pelaku usaha (51,3 juta unit usaha atau 99,91%). Penyerap tenaga kerja terbanyak (90, 9 juta pekerja atau 97,1%). Kontribusinya terhadap PDB (Rp 2.609,4 triliun atau 55,6% ). Nilai investasi yang cukup signifikan (Rp 640,4 triliun atau 52,9%). Penciptaan devisa (Rp 183,8 triliun atau 20,2%).

Upaya Menghilangkan Kesenjangan Digital
Selain memimpin banyak perusahaan, Ketua Institut Demokratisasi dan Sosialisasi Teknologi (IDST) di The habibie Center ini juga aktif di berbagai kegiatan non profit. Mulai dari bidang keprofesian, pendidikan hingga telekomunikasi. Salahsatunya koalisi IDST bersama ITB dan sebuah organisasi nirlaba asal Amerika Serikat, digitaldivide.org. membentuk Investor Group Against Digital Divide (IGADD), yang bertujuan menarik investor internasional untuk mengembangkan TIK Indonesia demi menghilangkan kesenjangan digital bagi rakyat.

Dalam IGADD ada istilah meaningful broadband yang memiliki tiga ciri utama. “Artinya memiliki sesuatu yang berarti saat mendorong dan mengembangkan ekonomi rakyat khususnya lewat internet. Yaitu harus affordable; terjangkau dari segi biaya, usable; dapat dimanfaatkan dengan mudah, dan empowering; memberdayakan,” tutur Senior Member of American Institute for Aeronautics and Astronautics.

Menurut Ilham, model pengembangan ekonomi selain memperhatikan pertumbuhan, inflasi, ekspor-impor, dsb, juga perlu melihat aspek-aspek budaya TIK seperti efisiensi penggunaan internet dan software untuk meningkatkan pengalaman spiritual. Tugas yang lebih besar lagi adalah dengan pertumbuhan ekonomi kita, berapa persen bisa menambah pertumbuhan dengan satu sistem berdasarkan internet dalam penciptaan lapangan pekerjaan, pemberantasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup.

“Pada dasarnya sama dengan semua hal yang baru, selain ancaman juga ada peluang. Dengan TIK, adalah tanggungjawab kita semua memberi pendidikan dan arahan supaya manfaatnya jauh mengimbangi mudaratnya. kita tetap harus siap menerima perubahan dan teknologi baru. Tapi kita harus manage secara aktif sehingga manfaatnya benar-benar bisa terjadi,” pungkas Pendiri dan Ketua Indonesian Philharmonic Orchestra Foundation

Dalam sidang paralel yang dipimpin Ketua Departemen Kaderisasi ICMI , Prof Dr. Teuku Abdullah Sanny juga menampilkan pembicara Dr. Betty Alisyahbana (ICT, Open Source Software dan Pengembangan Teknologi Industri Rakyat) dan Prof. Dr. Umar Anggara Jenie (Pengembangan Teknologi Untuk Industri Rakyat – Contoh Kasus Program Iptekda LIPI).

Iklan