Seminar Nasional
”Politik Ekonomi dan Strategi Indonesia Menghadapi Tantangan ACFTA 2010”

Gedung BPPT, 12 Pebruari 2010

Menghadapi perjanjian kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (Asean-China Free Trade Area/ ACFTA), Indonesia perlu politik ekonomi yang jelas agar sektor-sektor yang lemah seperti pertanian, manufaktur, infrastruktur dan pertambangan bisa di-empower dengan kebijakan publik.

Teknologi untuk Daya Saing
Sehingga, menurut Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Dr. Sugiharto, kita tidak hanya menjual komoditi ekspor dan sebagai tempat buruh murah, juga bisa mendorong supply chain dan sektor-sektor derivatif yang pada gilirannya akan memberi nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. “Sebetulnya ada momentum di mana investor di Cina sudah banyak yang kapok karena Cina melakukan politik dumping. Indonesia punya peluang membuat peraturan tentang investasi lebih kondusif. Karena itu kalau masalah local politics bisa diselesaikan dengan cepat sesungguhnya kita punya peluang membuat iklim investasi lebih baik, sebut mantan Meneg BUMN ini (16/ 02).

Di sisi lain, kita harus lebih fokus mengembangkan industri berbasis teknologi untuk mempertahankan dan membangun daya saing hasil produksi menghadapi ACFTA yang memungkinkan kerjasama antar negara yang berbeda latar belakang ini. Menurut Dewan Pakar ICMi Pusat, Dr. –Ing. Ilham Habibie, teknologi adalah sesuatu yang lepas dan global yang justru bisa menyatukan umat manusia. Karena merupakan hukum alam yang diciptakan Allah SWT dan turunan-turunan teknologi adalah kreasi manusia di manapun dia berada. ”Teknologi harus kita pegang karena daya saingnya secara strategis. Tanpa mengerti teknologi, industri kita kehilangan competitive advantage, ” imbuhnya. Karena itu teknologi merupakan salah satu faktor utama dalam hal restrukturisasi industri manufaktur dan riset/ pengembangan produk-produk baru yang lebih kompetitif

Peluang Industrialisasi Batam
Mengenai kehadiran investor Singapura di Batam, sambung Ilham, justru itu sangat diinginkan. Mengacu kepada Hongkong pada 1950 terkenal sebagai sentra manufaktur bukan keuangan atau jasa seperti sekarang. Dengan berkembang harga tanah, SDM lebih mahal dan Upah Minimum Regional (UMR) lebih tinggi, Hongkong jadi tidak kompetitif lagi. Sehingga terpaksa dia outsourching ke Shenzen, Provinsi Guangdong yang menjadi titik mula industrialisasi Cina. Saat itu industrialisasinya belum modern, tidak dituntun dan dibina oleh negara namun dasarnya tetap entreprenerial. Saat ini Guangdong, propinsi yang relatif kecil dibanding seluruh Cina, memiliki lebih dari 20-25% dari produk industri di Cina yang dikenal sebagai Pearl River Delta

“Jadi yang diinginkan Batam tidak jauh beda. Yaitu Singapura menjadi sangat mahal sehingga dia perlu outsourching dan tidak ada tetangga terdekat selain Batam dan utara di Johor Baru. Di situlah kita bisa mempelajari know how mereka dan kembangkan pabrik-pabrik yang sangat berkembang di Batam yaitu industri minyak dan gas serta galangan kapal,” ungkapnya.

Kepala Otorita Batam Ir. Mustafa Widjaya, MM menguatkan, dengan memanfaatkan Singapura peluang bukan hanya Batam saja tapi juga Sumatera, Jawa, Kalimantan dan daerah lainnya. Kerjasama terjalin jika kita kompetitif. Salahsatu keunggulannya infrastruktur. Batam pun harus punya infrastruktur yang kokoh. Saat ini sudah dibangun beberapa jaringan fiber optik sehingga pulau itu sekarang hampir mempunyai fasilitas telepon seperti Singapura. ”Ini tentunya perlu SDM dan mereka berasal dari seluruh Indonesia. SDM yang dulunya tahun 1970an hanya sekitar 6ribuan. sekarang sudah 1 juta berasal dari seluruh indonesia. Tenaga asing yang bekerja di Batam saat ini angkanya masih lebih rendah dari 2%,” beber Mustafa.

Demikian juga untuk industri anjungan lepas pantai dan industri kapal yang sekarang sudah diekspor ke hampir ke seluruh dunia. Karena di Singapura tenaga-tenaga blue collar-nya sudah susah. Meski ada Srilangka, Filipina, dan Thailand, Singapura lebih memilih tenaga di Batam. ”Kalau melihat yang lebih besar lagi. Kita bisa bekerjasama dengan Singapura menghadapi FTA Cina dan India,” pungkasnya

Iklan