SILAKNAS ICMI 2009
Batam, 11-13 Desember 2009

Sidang Paralel III
“Penggunaan ICT, Riset dan Pengembangan Teknologi Industri Rakyat”

Penggunaan peranti lunak (software) komputer berbasis Open Source (OS) di Indonesia sangat strategis karena merupakan kesempatan mengejar ketinggalan, Kebanyakan software yang digunakan adalah hasil dari perusahaan-perusahaan di negara maju. Dengan open source software (OSS) Indonesia sebagai negara berkembang, akan duduk sama sejajar. Kode sumber program OSS tidak dirahasiakan atau terbuka, sehingga dapat dipelajari, dimodifikasi dan disebarluaskan.

Hemat Biaya Lisensi
“OSS umumnya didapatkan tanpa biaya dan dikembangkan secara gotongroyong oleh orang-orang di seluruh dunia. Karena itu biasanya pengembangannya jauh lebih cepat. Kalau software komersial. kita bisa menggunakannya tapi tidak bisa membuka programnya. Kalau ingin mengembangkan mulai dari awal lagi,“ ungkap Founder dan CEO QB Creative, Betty Alisyahbana saat menjadi pembicara kedua di sidang paralel III, Silaknas ICMI, Batam (12/12/09)

OSS, dalam hal ini Free Open Source Software (FOSS) juga hemat biaya lisensi untuk dialokasikan ke pendidikan dan inovasi. OSS mengadopsi standar terbuka yang telah diakui secara internasional sehingga tidak tergantung pada satu vendor dan menciptakan kompetisi sehat serta memungkinkan interoperabilitas Belum lama ini Betty bersama Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang diketuainya menggandeng Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), beberapa bank swasta dan perusahaan telekomunikasi memberikan ratusan komputer layak pakai berbasis OSS terkoneksi internet plus pelatihan kepada sekolah-sekolah di daerah-daerah yang tertinggal.

Open Source untuk Pemberdayaan
Perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi karena harus untung umumnya investasi di daerah- daerah pusat, jarang di pedesaan di mana penggunanya belum cukup banyak. “Kalau ini dibiarkan tanpa intervensi, yang maju makin maju yang tertinggal makin tertinggal,” imbuh wirausahawati yang pernah bergabung di IBM selama 24 tahun. Sinergi FOSS dengan program Universal Service Obligation (USO) memungkinkan di masing-masing kecamatan menjadi bisnis bagi pengusaha lokal dengan membangun layanan komputer dan internet di 5748 kecamatan.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga sangat erat terkait dunia pendidikan. Pemakaian OS di perguruan tinggi saat ini masih terbatas dan software di lab-lab komputer di sekolah dan perguruan tinggi juga banyak yang tidak legal. Diharapkan Perintah bersama ICMI dan pihak lainnya yang peduli, perlu menstimulasi pemanfaatan TIK di lembaga atau institut pendidikan tingkat nasional mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Misalnya, Politeknik didayagunakan sebagai lembaga pengembangan OS dan bertanggungjawab membina UMKM di sekitarnya. Pemerintah juga perlu berpihak pada produk, jasa, dan inovasi, termasuk hasil-hasil penelitian dalam negeri. Yang terpenting bagaimana pemanfatan TIK bisa optimal mendukung perkembangan usaha rakyat.

Iklan