Keingintahuan pelajar tentang ICMI begitu besar. Ini terlihat dari suasana dialog interaktif MPP ICMI bersama belasan siswa Pondok Modern Gontor, dalam rangka kunjungan study tour, yang diterima Presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim di ICMI Center, Jakarta Selatan. (19/08) 


Pendidikan dan Hukum 

Sebagai lembaga pendidikan, Gontor sudah tidak asing lagi, dikenal sebagai wadah pencetak kader-kader yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang mumpuni. “Anda sekalian beruntung bersekolah di salah satu sekolah terbaik di Indonesia. Lulusannya bisa jadi apa saja, karena diberi tools berfikir yang kuat dan moderen,” puji Marwah.

Banyak pertanyaan dilontarkan, diantaranya bagaimana ICMI merespon perkembangan terkini di bidang pendidikan dan hukum. Di bidang pendidikan, diutarakan kekuatiran banyaknya sekolah-sekolah yang lebih mengedepankan pendidikan umum ketimbang agama yang berpotensi masuknya nilai-nilai sekularisme sejak dini. Menurut Marwah Daud, pendidikan selalu menjadi concern utama ICMI dengan program tunggal pada pengembangan Sumber daya Manusia (SDM) yaitu 5K; kualitas iman takwa, kualitas berpikir kualitas kerja, dan kualitas hidup. “Di sisi pendidikan memang harus seimbang, karena kajian iptek sejatinya dari Al Quran. Kita juga membuat sekolah-sekolah model seperti Insan Cendekia di Serpong dan Gorontalo,” paparnya.

Kemudian ditanyakan tentang penerapan kaidah-kaidah hukum di tanah air yang hingga kini masih kental nuansa peninggalan kolonial Belanda. Sebagai pelajar yang sudah ditanamkan nilai-nilai keislaman sebagai way of life, mereka mengusulkan agar Indonesia mengaplikasikan sumber-sumber hukum yang bersumber dari Al Quran dan Hadist supaya tidak terjadi berbagai penyimpangan dan pelanggaran yang saat ini marak terjadi. ” Untuk bidang hukum, ICMI juga sangat terlibat. Sudah banyak Undang-undang dibahas berkaitan kegiatan keumatan seperti UU Pendidikan, UU Pornografi dan yang paling baru mengenai UU Zakat. Penerapan di bidang ekonomi sudah ada, yaitu ekonomi syariah. Kita pantau apa yang harus diubah. ICMI punya tim-tim khusus membahas semua sendi kehidupan,” imbuh Marwah.

Direktur Laznas BMT, Baihaqi Abdul Madjid menyambut baik keinginan sebagian siswa Gontor ini yang setelah lulus berminat untuk aktif di ICMI. ”Sebagaimana firman Allah Swt; Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Jadi kita wajib membangun peradaban umat ini dengan istiqamah di bidang apapun yang kita tekuni. Kami di badan otonom ICMI, mengembangkan apa yang disebut sistem ekonomi keberkahan seperti dicontohkan Rasulullah beserta sahabat yaitu Baitul Maal wat Tamwil,” jelasnya.

Al Qur’an dan Nuklir 

Juga berkesempatan memberi arahan, seorang kader ICMI, Irwan, yang kompeten di bidang teknologi nuklir dan baru saja kembali dari Rusia. Ia menyayangkan paradigma berpikir umat Islam yang mengalami degradasi di bidang sains dan teknologi khususnya teknologi nuklir yang identik dengan perang, bom dan sejenisnya. Padahal teknologi ini bisa dipakai untuk kepentingan damai seperti pertanian, kesehatan dan industri. ”Sebenarnya teknologi ini sudah cukup lama sejak jaman Ibnu al Haisam yang hidup pada 600 masehi. Ia seorang ulama Islam yang mengembangkan teori optik yang terinspirasi Al Qur’an surat An Nur yang menyebutkan cahaya di atas cahaya. Sementara yang kita kenal bapak optik sedunia yang digembar-gemborkan ilmuwan Barat adalah Isaac Newton yang hidup pada 1427 hingga 1429 masehi. Jeda antara keduanya kira-kira 6 ratus tahun. Sangat jauh sekali perbedaannya,” ungkap Irwan.

Irwan menjelaskan, selama ini sebagian kita menerjemahkan surat Al Hadid adalah ‘besi’, padahal maknanya ‘logam’ yang merupakan inti dari berbagai unsur termasuk besi. “Jadi mengembangkan teknologi nuklir merupakan salah satu perintah Al Quran. Kita lihat betapa Iran begitu kuat dan ditakuti Barat. Kini India dan Pakistan juga ikut mengembangkan. Sudah saatnya umat Islam bangkit di Indonesia. Insya Allah ke depan lebih maju, berjaya dan beradab. Kita akan merasakan yang namanya kejayaan Islam. Di mana akidah, tauhid, peradaban dan keilmuan dikolaborasikan,” pungkasnya. Dialog juga dihadiri Anggota Sekretariat ICMI Pusat, Rahman Asidin, Anggota CIDES, Fathullah dan segenap aktivis Laznas BMT ICMI.

Iklan