Komitmen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia mengawal pelaksanaan pilpres 2009 agar benar-benar sampai pada tujuan yang diharapkan, dipertegas dengan dikeluarkannya Maklumat Politik ICMI pada konferensi pers di Sahid Hotel (26/05/09). Dengan kriteria ICMI mengenai calon pemimpin nasional; Imam yang memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathonah, masyarakat luas diharapkan bisa menilai siapa yang layak dipilih dan memimpin bangsa ini ke depan.Maklumat berisi enam butir tersebut dibacakan Sekretaris Jenderal ICMI, Agus Salim Dasuki. 

Momen Konsolidasi 

Ketua Dewan Kehormatan ICMI, Jimly Asshiddiqie, mengatakan, ICMI sebagai organisasi cendekiawan tidak terjebak sikap dukung-mendukung capres atau partai politik karena warga ICMI sangat beraneka ragam baik keanggotaan maupun keterlibatan dan kecenderungan politiknya masing-masing. Ada yang aktif sekali dalam kegiatan politik, ada yang anti kegiatan politik, banyak yang jadi anggota tim sukses partai dan capres bahkan banyak juga yang golput. Sebagai organisasi kemasyarakatan, ICMI menyadari kedudukannya sangat penting ke depan menghadapi perkembangan politik. ICMI harus mengadakan konsolidasi sebagai kekuatan civil society. “Kita harus bagi tugas siapa yang mengurus negara, siapa yang mengurus masyarakat. Jadi trias politica kehidupan modern harus kita bangun dan tegakkan bersama. Yaitu state, civil society dan dunia usaha,” ujar Jimly.

Lebih jauh Jimly mengatakan, harapan bersama dalam lima tahun ke depan, kita tidak bisa lagi membiarkan keadaan negara tanpa arah. Sesudah sepuluh tahun reformasi, kesempatan konsolidasi ialah pada 2009-2014. Untuk itu, siapapun yang terpilih, memerlukan dukungan mayoritas suara di parlemen supaya pemerintahan bisa efektif. ”Saya bersyukur kondisi partai kita masih sangat pragmatis dan belum terlalu kuat. Koalisi-koalisi itu bisa berubah. Dari sudut pelembagaan partai mungkin negatif. Tapi dari sudut keperluan konsolidasi lima tahun ke depan, di mana kita membutuhkan pemerintahan yang kuat dan efektif, ini adalah sesuatu yang baik. Jadi siapa saja yang terpilih, kita akan beri dukungan kritis asal dia bisa bekerja efektif untuk konsolidasi,” ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Jika tidak ada upaya jelas menentukan arahnya, menurut Jimly, struktur sistem kenegaraan kita akan memakan dirinya sendiri. Kebebasan akan menelan kebebasan itu sendiri. Demokrasi tidak akan menghasilkan buah kesejahteraan, kebebasan dan keadilan. Dia hanya bebas tanpa ada aturan. ”Kami mengambil tema konsolidasi dalam maklumat ini karena memang membayangkan banyak masalah yang harus diselesaikan sesudah 10 tahun reformasi. Selama ini segala macam ide perubahan sudah kita praktekkan dan setelah dilihat keseluruhan, ini menimbulkan banyak sekali masalah. Jadi langkah selanjutnya adalah konsolidasi. Siapa saja pun yang jadi presiden nanti kita sarankan supaya bisa mengambil langkah yang tepat untuk konsolidasi itu,” pungkas Jimly.

Substansi Pilpres 

Presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim, menguatkan, dalam berbagai kesempatan iCMI secara khusus melakukan kajian khusus meningkatkan kualitas demokrasi dengan bermuara pada kesejahteraan rakyat. Diharapkan ketika para anggota dan simpatisan ICMI memilih, itu jadi salah satu pertimbangannya. Siapa di antara mereka yang sungguh-sungguh melalui proses kampanye atau track record masing-masing. Puncak dari proses yang dilakukan adalah bukan demokrasi dengan biaya mahal yang ujungnya hanya berulang dilakukan lagi proses yang tidak substansif. ”Substansinya adalah menuju kesejahteraan rakyat dengan indikator-indikator yang penting. Kita ingin pada proses kampanye ini pada kontestan menyampaikan secara khusus bagaimana misalnya mengubah proses berfikir masyarakat sehingga siap berdemokrasi, siap untuk hidup lebih maju dan bermartabat,” tandas Marwah.

ICMI dari awal fokus kepada pengembangan sumber daya manusia. Lima K sebagai fokus utama; peningkatan Kualitas Iman dan Takwa, Kualitas Kerja, Kualitas Karya, Kualitas Berfikir dan Kualitas Hidup. Marwah mengimbau masyarakat untuk mendukung pilpres kali ini supaya membawa perubahan substansif dari kualitas berdemokrasi menuju kesejahteraan, yang bertumpu terutama pada peningkatan kualitas manusia Indonesia. ”Kita berharap teman-teman ICMI di daerah tidak pasif tapi ikut bersama masyarakat untuk sungguh-sungguh melihat. Siapa di antara calon-calon ini memberikan perhatian khusus kepada pengembagan sumber daya manusia ,” imbuhnya.

Kekuasaan adalah Amanah 

Sementara itu Ketua Presidium ICMI, Muslimin Nasution menegaskan kembali pesan utama dari maklumat tersebut, bahwa kekuasan yang diraih melalui pemilihan umum bukanlah komoditas yang layak dijualbelikan. ”Itu adalah amanah Allah SWT yang harus dipertanggugjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Jadi berat sekali. Yang kelihatan kesan sekarang, banyak kita dengar ada yang money politik, dsb. Bahkan bisa menjalar ke tujuan menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan,” sebut Muslimin.

ICMI memandang pasangan capres dan cawapres yang ada sekarang ini bermutu dan secara kualitatif semua memenuhi syarat. Tinggal bagaimana masyarakat secara bebas sesuai keyakinannya memilih mana yang dapat dipercaya. ICMI pun membebaskan dan mempersilahkan anggotanya menentukan sendiri sikap dan pilihannya masing-masing. Masyarakat diimbau agar mampu meyakinkan diri masing-masing, menakar dan menjatuhkan pilihan mana dari ketiga pasangan capres dan cawapres yang paling mungkin memenuhi harapan rakyat akan perbaikan bangsa. hadir juga dalam konferensi pers tersebut Sekretaris Dewan Pakar ICMI, Hidayat Syarif dan Wakil Sekretaris Jenderal ICMI, Avip Saifullah.

Iklan